Beberapa
jenis fiksi romance:
- Mainstream
Romance
- Classic
Romance
- Teen
Romance
- Domestic
Drama
- Clique*lit
—
1.
Mainstream Romance
Seperti
roller coaster, novel-novel Mainstream Romance membawa emosi pembaca
naik-turun. Pokoknya, semuanya tentang cinta, cinta, dan CINTA!
PLOT
Ciri lain Mainstream Romance adalah pakem Star
Cross-nya; artinya sejak awal tokoh utama perempuannya sudah di-set akan
berjodoh dengan tokoh utama laki-lakinya. Tapi bagaimana kedua orang itu saling
tertarik, jatuh cinta, dan memutuskan bersama… itu dia yang pembaca ingin tahu
dari novelmu!
Sebisa
mungkin, hindari terlalu banyak kebetulan. Dan adegan tabrakan pas jalan
berpapasan. C’mon… ada segudang cara lain yang bisa kamu pakai untuk
mempertemukan pasangan di novel Mainstream Romance-mu ini.
SETTING
Optimalkan kekuatan cerita di chemistry antara dua
tokoh. Ciptakan suasana yang intens dan romantis dengan deskripsi yang baik,
dan jangan lupa: location, location, location. Setting tempat yang mendukung
cerita akan menjadi nilai plus buat naskah kamu.
Untuk
nuansa romantis yang lembut pilih tempat-tempat ber-space luas, daerah pinggir
kota misalnya. Sementara untuk Mainstream Romance bertema urban, pilih daerah
perkotaan atau ciptakan lingkungan fiktif yang bisa mewakili lifestyle
kehidupan perkotaan. Misalnya, perkantoran elite, kantor majalah high fashion,
dsb.
KARAKTER
Biarpun ini kedengarannya sepele, pilihlah nama yang
menggambarkan kepribadian karaktermu. Nama-nama ‘maskulin’ (misalnya: Bobby,
Andres, Tora) mempermudah pembaca membayangkan se-macho apa karakter cowokmu.
Sebaliknya, nama-nama ‘uniseks’ (misalnya: Andri, Dian, Alex, Kurnia, Aulia)
akan jadi sangat membingungkan.
Seperti
halnya nama, pilih baik-baik profesi dan hobi karaktermu.
LAIN-LAIN
Teknik ini udah bukan rahasia lagi—saking seringnya
dipakai di film-film romantis Hollywood. Pastikan semua konflik (utama, sub
konflik) sudah selesai di bab kedua sebelum ending. Tutup cerita dengan satu
bab yang menggambarkan seperti apa pasangan novelmu menjalani hari-hari penuh
cinta mereka. Misal: kalo fokus cerita kamu tutup dengan lamaran, mungkin di
bab terakhir (+ 5 halaman) kamu menhadiahkan pembaca cerita tentang momen
romantis yang terjadi saat pernikahan. Quote-quote manis akan sangat membantu
di bagian ini.
-
2.
Classic Romance
PLOT
Ada dua jenis romance yang masuk kategori Classic
Romance: romance sejarah dan romance konvensional. Seperti namanya, romance
sejarah mengambil setting waktu berabad-abad lampau. Romance konvensional
ber-setting lampau dan tahun sekarang, tapi temanya sangat dekat dengan budaya
dan tradisi Indonesia. Bayangkan kisah cinta terlarang keturunan kraton dan
orang biasa, atau hubungan yang ditentang orangtua karena masalah marga.
Saat
mengerjakan novel Classic Romance, kamu tetap harus ingat: ini novel romance.
Tetap perhatikan chemistry pasangan yang menjadi tokoh utama dan awasi
baik-baik perkembangan cinta mereka.
SETTING
Konflik adat dan keluarga sangat kental di Classic Romance. Mainkan
kreativitasmu untuk menciptakan setting yang memancing konflik kuat dan nggak
mengada-ada, misalnya: acara keluarga besar yang memungkinkan clash antara cara
pikir generasi muda dan generasi tua.
Kekuatan
di novel-novel seperti ini terletak di setting waktu dan tempat. Kamu harus
bisa meyakinkan pembaca bahwa semua kejadian di novelmu terjadi di waktu dan
tempat yang kamu tetapkan. Karenanya, kamu sebaiknya melakukan riset yang cukup
dulu sebelum mengerjakan novel ini.
DESKRIPSI
Hati-hati saat mencecerkan fakta di novel Classic Romance-mu. Menyelipkannya
sebagai deskripsi—apalagi sampai kebanyakan—bisa membuat novelmu berubah jadi
semi non-fiksi dan, lebih buruknya lagi, kayak brosur! Menjadikannya sebagai
bagian dialog kadang-kadang malah membuat si tokoh seperti tukang obat yang
cerewet. Sekali lagi, hati-hati. Nggak sedikit penulis yang terpeleset di
kecenderungan ini.
LAIN-LAIN
Hati-hati dengan penggunaan bahasa slang. Noni-noni di
Batavia belum kenal istilah ‘sumpe lo’ atau ‘kepo banget sih lo’. Oke, emang
lucu sih… tapi nggak bakal lucu kalo novelmu terbit dan ada pembaca yang
menemukan kesalahanmu itu.
-
3. Teen
Romance
PLOT
Mulailah novelmu dengan hal-hal ringan. Bisa jadi tokoh cewek dan tokoh cowokmu
baru bertemu. Bisa jadi juga mereka berantem dan saling benci sebelum mengenal
satu sama lain lebih jauh. Terserah.
Buat
pembaca bersenang-senang dengan plot novelmu. Jangan terlalu terburu-buru
membuat tokoh-tokoh utamamu jatuh cinta, biaskan mereka menikmati perasaannya.
Buai pembaca dengan pertemuan-pertemuan yang megesankan, kencan pertama yang
canggung tapi berakhir menyenangkan, ciuman malu-malu… biarkan pembaca terbawa
jauh ke dalam cerita cinta buatanmu.
‘Jadian’
memang ending Teen Romance pada umumnya, tapi bukan berarti
kamu nggak bisa bermain-main dengan pakem ini. Ciptakan sub plot yang bikin
penasaran atau tokoh-tokoh lain yang mendukung/menghalangi cinta mereka. Jadi,
biarpun sudah kebayang ceritanya bakal berakhir bahagia, buat pembacamu
ketagihan untuk terus membaca sampai halaman terakhir.
KARAKTER
Dunia sekolah dan kuliah adalah fokus utama Teen
Romance. Usia tokoh utama di novel ini biasanya berkisar antara 18-24 tahun.
Sedangkan untuk tokoh pendukung, pilih yang mewakili dunia di sekitar tokoh
utama. Bisa jadi kepala sekolah, mantan, tetangga, orangtua, teman-teman, atau
malah musuh bebuyutannya.
Tokoh
cowok di Teen Romance biasanya ganteng… tapi jangan buat dia jadi sempurna.
Ciptakan karakter yang punya kelemahan, entah itu ketakutan pada hal tertentu,
trauma, kebencian, dan dendam. Kekurangan membuat si tokoh terasa nyata.
Meskipun
Teen Romance pada dasarnya adalah cerita cinta, pembaca ternyata lebih fokus
pada bagaimana akhirnya si tokoh cewek mendapatkan cinta cowok idamannya. Jadi,
pikirkan baik-baik tokoh utama cewek di novelmu. Lakukan riset kalau perlu.
Jangan
terjebak di klise ‘cewek tomboy’ dan ‘cewek feminin’.
Tokoh
cewek yang sempurna akan membuat pembaca sulit bersimpati karena cewek seperti
ini biasanya dianggap mudah mendapatkan segalanya.
Dalam
fiksi, baik tema maupun karakter memiliki fokus perhatian yang sama besarnya.
Tapi, di Teen Romance, daya tarik sesungguhnya terletak di seberapa
meyakinkannya tokohmu mewakili dunia remaja saat ini. Jadi, sebelum menulis,
pastikan kamu sudah memiliki bayangan jelas tentang gaya hidup remaja, apa yang
sedang mereka gandrungi, tontonan dan game favorit, hobi, dsb. Pelajari cara
mereka bicara dan masalah yang sedang mereka hadapi.
LAIN-LAIN
Hati-hati dengan klise. Pacaran dengan anak band dan anak basket bukan hanya
‘biasa’ banget di Teen Romance, tapi juga kemungkinan sudah banyak dipakai
penulis lain sebelumnya. Mulailah riset dan temukan ide-ide menarik untuk
novelmu. Majalah remaja adalah salah satu sumber yang bagus untuk menggali ide.
Teen
Romance biasanya ditulis dari sudut pandang orang pertama atau orang ketiga,
tapi beberapa novel bagus malah menggunakan sudut pandang orang kedua. Pilihlah
yang menurut kamu paling cocok dengan gaya berceritamu.
Adegan
romantis di Teen Romance cenderung lembut dan manis. Hindari adegan-adegan
vulgar yang nggak cocok dibaca anak sekolah.
-
4.
Domestic Drama
PLOT
Sesuai namanya, novel-novel Domestic Drama bercerita tentang pasang surut dalam
kehidupan pernikahan. Masalah-masalah yang dialami tokoh utama (suami-istri)
tak jauh-jauh dari kehidupan rumah tangga lainnya: uang, karier, anak,
kehidupan bermertua, tetangga, pendidikan anak, dsb. Pilih konflik yang membumi
dan tidak mengada-ada.
Sebaiknya
mengambil latar belakang keluarga menengah ke atas. Konflik keluarga kelas atas
biasanya berkutat di masalah skandal, which is bukan pilihan konflik yang
sedang kita cari.
What
happens in family, stays in family. Jangan biarkan konflik dalam novel Domestic
Drama-mu diselesaikan/dibantu orang yang bukan keluarga. Lebih baik lagi, jika
tokoh utamanya sendiri yang menyelesaikan masalah rumah tangganya—yang, tentu
saja, dengan segala pergumulan dan kesadaran diri.
Konflik
atau sub-konflik orang ketiga sebaiknya dihindari. Bukan saja klise, tapi
outdated—alias kuno banget.
KARAKTER
Karakter-karakter pendukung Domestic Drama tak jauh-jauh dari lingkungan
keluarga: anak, mertua, kakek, nenek, cucu, paman, bibi—bahkan mungkin,
tetangga. Semua tokoh yang dilibatkan dalam Domestic Drama sebaiknya dipilih
yang benar-benar membantu tokoh utama dalam menyelesaikan masalah
pernikahannya.
Newlyweds
(pengantin baru) adalah topik favorit Domestic Drama. Bukan saja karena di fase
inilah banyak sekali kemungkinan konflik yang bisa terjadi, tapi juga fakta
bahwa pembaca romans GagasMedia yang mayoritas dewasa muda bisa dengan gampang
‘terlibat’ ke isi cerita. After the Honeymoon (Ollie) adalah contoh baik novel
Domestic Drama bertema newlyweds.
LAIN-LAIN
Butuh inspirasi? Tonton serial-serial TV seperti Home
and Away, Neighbours, Growing Pains, Family Ties, Six Feet Unders, dan Brothers
and Sisters untuk mencari inspirasi.
-
5.
Clique*lit
PLOT
Tema besar Clique*Lit adalah pergaulan dan pertemanan.
Jadi, plot yang kamu temukan di serial Glam Girlshanyalah sebagian
kecil dari banyak sekali kemungkinan tema. Bisa jadi, novel Clique*Lit-mu
bercerita tentang pergaulan anak-anak di asrama atau tempat kos. Atau, novelmu
bercerita tentang sekelompok remaja yang melakukan study trip bersama. Atau,
tentang perseteruan di antara anak-anak Klub Ilmiah Remaja (KIR). Have
fun. Pikirkan cerita-cerita yang out of box.
Sumber
konflik di genre Clique*Lit berasal dari: ambisi, skandal, kebencian, dendam,
kekecewaan, persaingan, dan pengkhianatan.
Isu
popularitas paling cocok untuk clique cewek (Glam Girls). Isu siapa yang lebih
jago, lebih berani paling cocok untuk clique cowok (The
Outsider, S.E. Hinton).
Kunci
memilih konflik apa yang muncul di novel kamu terletak di background tokoh
utamamu. Semakin high class statusnya, konflik tokoh nggak jauh-jauh dari
sesuatu yang scandalous—gosip, rahasia, aib, dsb.
KARAKTER
Anggota clique atau geng bisa dibeda-bedakan menjadi
empat karakter menonjol:
- Karakter
Alpha digambarkan sebagai sosok pemimpin clique. Tokoh yang
seperti ini biasanya memiliki kelebihan yang sangat menonjol (misalnya:
sangat pintar atau sangat kaya), goal-oriented, keras kepala, dan nggak
mau kalah. Tokoh yang seperti ini bisa jadi adalah anak tunggal di
keluarganya.
- Karakter
Beta digambarkan sebagai sosok yang nggak selalu seide dengan Alpha, tapi
nggak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti kemauan Alpha. Beta biasanya
menghormati pendidikan, jadi tokoh ini dihormati karena intelegensianya.
Tokoh Beta membuat banyak pertimbangan sebelum memutuskan sesuatu, paling
mungkin terjebak rutinitas (karena melakukan segala sesuatunya secara
sistematis). Tokoh Beta punya insekuritas tersendiri; misalnya nggak suka
berada di tempat ramai, nggak percaya diri dengan tubuhnya, dsb.
- Karakter
Theta adalah sosok follower sejati. Punya ambisi ingin seperti Alpha tapi
nggak cukup berani untuk bersikap tegas. Biang gosip. Berpotensi sebagai
backstabber.
- Karakter
Floater adalah sosok yang gampang masuk ke clique manapun. Tokoh ini
biasanya memiliki daya tariknya sendiri. Berasal dari keluarga public
figure. Paling nyantai di antara semua karakter. Punya agenda sendiri,
jadi nggak melulu merasa harus mengikuti maunya si Alpha.
Masing-masing clique punya
identitas sendiri. Entah itu gaya berpakaian, slang, bahkan tempat nongkrong.
Pastikan clique di novelmu memiliki identitas.
SETTING
Selain karakter, setting adalah
faktor yang penting kamu perhatikan. Sebelum memutuskan menggunakan setting(waktu
& tempat) tertentu, pertimbangkan hal-hal berikut:
- Seberapa
berpengaruh setting ceritamu dengan plot? (cara mengetes: ‘pindahkan’
ceritamu ke setting yang sama sekali berbeda. Misalnya,
novel Glam Girls. Kalau Rashi and the clique dipindahkan
ke sekolah negeri, apakah ceritanya akan berubah total? Novel ini
bercerita tentang pergaulan dengan teman-teman dari negara berbeda dan
juga gaya hidup remaja high class. Jadi, ya. Setting sekolah
internasional terbukti berpengaruh sekali dengan plot.
- Seberapa
banyak interaksi tokoh dengan setting yang kamu buat?
- Apakah
setting-mu meyakinkan atau berkesan ‘tempelan’ saja? (solusi: kamu harus
riset lagi supaya bisa menciptakan setting yang lebih baik)
LAIN-LAIN
Pastikan bahanmu cukup sebelum memutuskan untuk menulis novel Clique*Lit-mu.
Kamu bisa belajar membuat plot Clique*Lit dari karya-karya sastra klasik
seperti Shakespeare. Cari tahu lebih banyak tentang peer pressure di
internet dan buku-buku di perpustakaan.