Kita terlahir dari kota yang berbeda. Tapi kerap kali membicarakan tema yang sama. Yaitu "CINTA"

Jumat, 24 Januari 2014

Negeriku



by: Valea Fiolida



 :Rakyat Melara[t]

 Negeriku berisi rakyat yang melara[t]
Hidup dalam lingkaran sekarat
Dan bergelimang dalam janji-janji petinggi yang keparat
Rakyat sekarat
Petinggi korupsi dengan semangat
Dan kini, banjir menutup sebagian negeriku dengan cepat
Secepat korupsi yang menggerogoti rakyat
Uluran bantuan datang melambat
Sakit hati kian melekat
Rakyat dan petinggi tetap berbeda sekat




Gambar saya ambil dari sinihttp://gepyphotoworks.blogdetik.com/2010/10/23/aku-profesi-dan-fotografi/img_4890/

Kamis, 31 Oktober 2013

Kopi Latte vs Kopi sanger

Senin malam, aku dan kekasihku menyambangi Kede Kopi Kami yang terletak di Setia Budi. tepatnya di depan Mie Aceh Titi Bobrok. Tujuan utama kami sangat jelas. Mencari wifi yang kencang. Sebab, kekasihku hendak mengirim essai puisi yang diikutinya ; lomba.
Akhirnya, setelah dapat tempat duduk yang pas di hati, aku memesan kopi Latte dan kekasihku memesan kopi Sanger; kopi susu khas Aceh. 
Ini dia kopi Latte:
Dan ini Kopi Sanger: 
Tapi, kelucuan terjadi setelah pesanan datang. Tepatnya pada saat kekasihku bertemu dengan teman lamanya, dan duduk bersama mereka. Jadilah aku sendiri. Dan saat pesanan datang, aku bingung, karena kopi yang kupesan tak kunjung datang. Akhirnya, kesabaranku habis. Aku memanggil pelayan dan menanyakan perihal kopiku. Dan ternyata sudah berada di tangan kekasihku. Aku pun mengirim pesan untuk kekasihku. Dengan wajah tanpa dosa, dia menghampiriku dengan kopi latte yang tinggal setengah, tapi sambil senyum-senyum. Marah? ah, tidak. Aku tidak bisa marah ketika melihat kelucuannya. Dan kami pun tertawa bersama. Itulah cinta, tak jarangg terselip kesalahan kecil, namun berakhir dengan sebuah tawa.


Minggu, 08 September 2013

perempuan dan kereta

Diambil dari blog : http://secangkircokelat.blogspot.com/


sejak stasiun benar-benar menjadi stasiun, perempuan itu kehilangan banyak sajak
yang biasanya ia pungut tiap mendengar peluit kereta.
kini, tak ada sajak
karena kereta kebanyakan berisi isu, bukan rindu
tak lagi didengarnya cerita liris tentang harap atau mimpi-mimpi pagi
kereta yang datang di stasiun yang benar-benar jadi stasiun hanya mengantar kepura-puraan yang jumlahnya terus beranak-pinak
orang-orang yang turun dari gerbongnya memakai topeng yang sama;
kalut
sejak stasiun benar-benar menjadi stasiun, perempuan itu tak bisa lagi berlama-lama beralasan menunggu kereta
tiket yang ia punya tak banyak. dan kini, harga tiket cukup mahal untuk ditukar dengan sajak dari mimpi-mimpi lama
kemarin saja, bahkan para petugas loket tak menoleh saat ia ingin menukar tiket dengan sajak yang berisi cinta dari sebuah kota bernama setia.
setia? ulang petugas loket. kau mengada-ada, cinta dan setia sudah lama tak lagi berada dalam frasa yang sama. cobalah bawa sajak lain yang lebih berlogika, tambah petugas loket itu buru-buru.
ia mengisyaratkan agar perempuan itu segera berlalu.
jadi, kini perempuan itu tak bisa lagi menunggu kereta.
karena stasiun benar-benar menjadi stasiun.
dan sisa sajak yang ia punya, hanya tentang setia dan cinta yg masih dalam frasa yang sama.

secangkir cokelat panas: malam datang tiba-tiba di pasar malam suatu ketika...

secangkir cokelat panas: malam datang tiba-tiba di pasar malam suatu ketika...:   kita menatap seolah doa yang kita hafal buyar tiba-tiba hari gelap senja tak menyempurnakan kisahnya komidi putar membawa terang yan...

Cerita Hujan


Hujan turun berbintik-bintik. Membentuk sebuah rintik. Menyuarakan bunyi tik-tik. 

Rindu dan kenangan saling berbisik. Menimbulkan berisik. Aku hanya mampu meringkik. Seperti akan kehabisan napas pada tiap detik. Rinduku sudak menukik. dan kenangan hampir mencekik. Aku tidak panik. Sebab, rindu dan kenangan seperti manik-manik. Indah dan cantik.

Secangkir Praffuccino berhasil kuracik. Aromanya apik. 
Hujan dan Praffuccino berbagi cerita tentang cinta yang tidak terusik. Cinta yang selalu menelisik. Tentang kenangan dan rindu yang menggubah nada menjadi sebuah pekik.

Sisa Kenangan

3 Maret 2012
Tidak ada firasat yang tersirat. Bahwa aku dan kamu bisa bertemu dan saling menatap dengan erat. Napas kita juga jadi terasa berat. Dan cinta kita semakin kuat. Karena kita menyatukan dua semangat. Aku masih ingat. Seperti apa kita menghabiskan malam yang pekat. 
Kala itu tepat pukul delapan malam, perut kita sama-sama menjerit. Kita sama-sama lapar. Dan itu juga yang membuat kita jadi gusar. Akhirnya, kita memilih menu ayam bakar. Sepiring nasi hangat juga ikut membasmi lapar.
Kita menyantap ayam bakar sambil berkelakar. Malam semakin beranjak, dan kita pura-pura tidak sadar. Kita malah saling berandar Menatap bulan yang sedang berbinar.
Aku mencintaimu!

Itu kata-kata yang kau ucapkan sebelum ayam bakar di piringku tandas. Senyumku pun terulas. Pada saat itu, aku tidak memikirkan bahwa itu hanya bias. Sebab, aku menganggap itu semua sesuatu yang jelas. Aku puas. Tidak ada rasa cemas. Hanya rasa gemas yang hadir ketika melirik bibirmu yang dipulas malam, manis. Semanis olesan madu yang melekat pada daging ayam yang kita pesan. Semuanya membuatku terkesan. Banyak pesan yang sudah tersampaikan. Pesan kebaikan dan kelukaan.

Aku tidak pernah berpikir sekali saja untuk membuatmu alfa dalam perputaran pikiranku. Kau selalu ada di sela-sela cara berpikirku. Ya, kau memang begitu. Tidak mau membiarkanku melepaskanmu. Tapi...
Kau sendiri yang diam-diam melepaskanku seperti aku yang diam-diam melepaskan daging ayam bakar dari tulangnya.
Kenangan tentangmu terkadang menyamai perputaran bumi pada matahari. Sudah kuabaikan, tapi kembali dan tetap mengitari.




Senin, 26 Agustus 2013

Hikayat 1001 Malam

Tiga tahun yang lalu, ketika aku dan seorang temanku sedang berada di toko buku Gramedia. Entah bagaimana awalnya, sampai akhirnya aku melirik ke arah buku Hikayat 1001 malam. 
Hal yang pertama kali menjadi pertimbanganku ketika akan membeli buku adalah :
  1. Desain sampul
  2. Judul
  3. Penerbit
  4. Penulis
Penulis buku Hikayat 1001 Malam bukan merupakan orang yang ku kenal. Penerbitnya juga bukan penerbit tempat biasa aku membeli buku. Tapi, entah kenapa pada waktu itu, aku ingin sekali membeli buku ini. Rasa ingin yang bersarang di pikiranku begitu kuat. Dalam hati aku menamai pikiranku pada saat itu dengan satu kata "Bangsat". 
Kenapa? karena pikiranku tidak pernah bisa berhenti menggoda, sampai tiba saatnya aku memutuskan untuk membeli. Terkadang aku tertawa geli. Sebab, setiap buku yang sudah kupegang, pada akhirnya pasti ku beli. Sungguh, aku memang seorang maniak buku. Namun, aku bersyukur terlahir dan ditakdirkan sebagai manusia penyuka buku. 
Buku Hikayat 1001 Malam merupakan buku termahal pertama yang ku beli. Harga buku ini adalah sebesar Rp. 106.000,00. Buku ini hard cover, memiliki tebal 586 halaman. Aku menyukai perpaduan warna lembut pada sampul buku ini. Rasa suka juga yang mendorongku untuk memiliki buku ini. Sama halnya seperti mencintai seseorang. Karena kita menyukainya maka kita berhasrat untuk mencintai dan memilikinya. Bagiku, cinta harus memiliki. Sebab,jika tidak memiliki, itu hanya sebuah rasa kagum.

Buku-buku yang sudah resmi menjadi milikku tidak semua ku baca pada saat itu juga. Contohnya buku ini. Aku tidak membacanya begitu buku ini sudah berhasil ku beli.
Kalian pasti akan bertanya seperti ini: Kenapa membeli buku kalau tidak dibaca?

Nah, bagiku membeli buku berarti sepertiga dari membaca. Membaca berarti separuh dari memahami, dan memahami berarti 90% mengerti isi yang terkandung dalam buku. Itulah prinsipku.
Sebab aku baru membaca buku ini pada tanggal 22 Agustus 2013. Sebuah kurun waktu yang lama, bukan?. Ya, tiga tahun lebih buku ini berpindah-pindah dari tangan teman-temanku dan baru kembali ke tanganku pada tanggal 20 Agustus 2013.  

Kisah 1001 Malam adalah sebuah untaian bianglala warna-warni yang indah dan tertuang dalam kisah binatang, istana raja dan rumah jelata; dari cincin batu sampai semerbak kerajaan Sulaiman, dengan segala angin, setan, jin, dan makhluk halus yang beliau taklukkan, beserta ragam bentuk telaga, burung-burung, mutiara, dan ratna mutu manikam yang keselururuhannya terhimpun dalam untaian kisah yang begitu indah. Mengandung hikmah dan petuah. Serta memiliki gaya bahasa yang baik dan menarik.
Ada satu kesimpulan yang ku peroleh dari peristiwa membeli hingga akhirya aku membaca buku ini, yaitu:
"Setiap yang diciptakan sang pencipta pasti berguna, meski butuh waktu yang lama untuk merasakan kegunaannya"